Feeds:
Pos
Komentar

Ceritaku

Sekolah TK dan SD Katolik Karitas I Surabaya bekerja sama dengan Perpustakaan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya mengadakan kegiatan mendongeng bertajuk ”Ayo ke Perpustakaan Ayo Membaca”, Kamis (28/10) di ruang perpustakaan sekolah itu.

Kegiatan mendongeng yang berintikan ajakan suka mendatangi perpustakaan sekaligus gemar membaca yang terangkai dalam peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2010, ini diikuti anak-anak TK dan SD Katolik Karitas I Surabaya yang terbagi dalam empat kelompok. Anak-anak, khususnya siswa TK yang mengikuti kegiatan mendongeng yang dibawakan oleh Bernardus Arif Normanuel Telussa dan Julia Idawati Laloan – keduanya adalah pustakawan dari Perpustakaan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya – tampak antusias mendengarkan dan menyimak.

Seusai mendongeng, Kak Arif, sapaan Bernardus Arif Normanuel Telussa, meminta di antara anak-anak menunjukkan keberaniannya untuk bercerita di depan teman-temannya. Salah seorang di antara mereka, Reza Safer, siswa TK, memberanikan diri dan berkisah seputar dunia hewan alias binatang. ”Harimau berpedang mau mengusir naga, terus naganya menyemburkan api,” kata Reza. Aneh dan lucu, amat terasa tatkala si bocah berusia TK itu menceritakan seputar dunia hewan alias binatang. Walaupun terkesan tidak masuk akal dan asal berceloteh, hal itu tidak- lah menjadi persoalan. Pasal- nya, anak-anak memiliki per- sepsi dan imajinasi tersendiri dalam memaknai apa yang pernah dirasakan, dilihat, atau dibacanya. ”Bercerita dari buku. Asalnya tidak tahu jadi tahu, setelah membaca buku,” kata Kak Julia Idawati Laloan.

Suasana bertambah seru saat giliran siswa SD kelas 2 memperkenalkan boneka yang ada ditangannya. ”Ayo kenalkan dulu …,” kata Kak Arif dan salah seorang anak menyahutnya, ”Fika … .” Kak Julia yang mendampingi Kak Arif pun berujar kepada anak-anak, ”Membaca biar apa …?” Spontan anak-anak pun menjawab, ”Biar pintar semua.” Lalu, Kak Julia pun menunjukkan buku cerita bergambar kepada anak-anak. ”Ayo ini buku apa,” tanyanya. Salah seorang siswa SD kelas 2 itu pun menyahutnya dengan suara lantang, ”Buku tanah longsor.” Selanjutnya, Kak Julia bercerita singkat seputar tanah longsor dan banjir. ”Banjir, longsor karena tidak ada pohonnya yang menahan air,” tuturnya.

Kak Julia melanjutkannya dengan menunjukkan buku cerita bergambar Si Gajah Cerdik dan mengisahkannya dihadapan anak-anak tersebut. ”Hutan banyak apa,” tanya Kak Julia yang disahut oleh anak-anak dengan serempak, ”Tumbuh-tumbuhan dan binatang.” Manajer Operasional TK dan SD Katolik Karitas I Surabaya Margareta Desi Restuti mengatakan, ”Agar anak-anak akrab dengan perpustakaan, kita adakan kegiatan mendongeng dengan tema ini.”

Sumber: Oleh Abdul Lathief, Kompas Jatim, 29 Oktober 2010

HARMONI

KUNG Fu Tse (551 – 479 SM), pendiri agama Khonghucu, pada suatu hari ditanya oleh para muridnya, “Guru, Pangeran Wei sedang menantikan Anda, apakah yang akan Anda lakukan pertama-tama di tempat pangeran itu?” Kung menjawab, “Memperbaiki nama-nama.” Para murid heran, “Apa perlunya?” Kung menjelaskan, “Kalau nama keliru, segala sesuatu menjadi keliru dan kacau, sehingga nanti orang tidak bisa membedakan di mana sepatutnya meletakkan kaki dan di mana meletakkan tangan.” Demikian sebuah cuplikan dari kitab Lun Yu (Inggris: Analects) dari abad ke-4 SM.

Yang dimaksudkan oleh Kung Fu Tse bukanlah nama seperti Ali, Budi, dan Cecep, melainkan nama dalam arti peran. Ali adalah pengurus sekolah, Budi adalah guru, dan Cecep adalah murid. Memperbaiki nama berarti memperbaiki perilaku dan kinerja supaya bisa berperan sesuai dengan peran masing-masing.

Ali harus menjalankan perannya sebagai pengurus yang jujur, Budi harus mengajar dengan bijak, dan Cecep harus belajar dengan rajin. Kalau mereka tidak memperbaiki nama, maka hubungan menjadi rusak dan sekolah itu akan terpuruk. Tiap nama bisa menjadi rusak, sebab itu tiap hari orang perlu memulihkan nama.

Pada kesempatan lain Kung Fu Tse berkata, “Hanya jika raja berperan sebagai raja dan rakyat berperan sebagai rakyat, hanya jika ayah berperan sebagai ayah, dan anak berperan sebagai anak, maka masyarakat akan harmonis.”

Menurut Kung Fu Tse jika tiap orang berada di tempat yang semestinya dan berperan sebagaimana mestinya, maka hidup dan segala hubungan hidup akan harmonis. Harmoni (Latin: harmonia = selaras, serasi) adalah salah satu kata kunci ajaran Kung.

Harmoni memang merupakan sebuah kebutuhan dasar: harmoni dalam keluarga, harmoni dalam masyarakat, harmoni majikan dengan karyawan, harmoni agama yang satu dengan agama yang lain, harmoni negara dengan negara tetangga, harmoni manusia dengan alam, dan harmoni makhluk dengan Khalik.

Harmoni menurut Kung Fu Tse terletak dalam hubungan yang sejati. Harmoni itu bukan ada dengan sendirinya, melainkan buah upaya dari iktikad menciptakan, memelihara, dan memulihkan hubungan.

Buku Man�s Religion karangan John Noss menjelaskan, “The rectification of names consist in making real relationships and duties and institutions conform as far as possible to their ideal meanings.” Artinya, memperbaiki nama adalah membuat hubungan, tugas, dan lembaga selaras mungkin dengan hakikat yang dimaksudkan.

Hubungan serasi dan damai telah menjadi ciri agama Khonghucu selama 25 abad. Di Tiongkok, Korea, dan Vietnam, agama itu berdampingan bagaikan menyatu dengan agama Tao dan agama Buddha, sedangkan di Jepang dengan agama Shinto dan agama Buddha. Agama Khonghucu tidak defensif dan tidak ofensif, melainkan harmonis. Karena itu kitab ajaran Kung Fu Tse yaitu Lun Yu, Ta Hsueh, Chung Yung, dan Meng Tse, yang ditulis pada abad ke-4 sampai ke-2 SM, dipelajari di banyak seminari teologi di Eropa dan Amerika.

Sejalan dengan Kung Fu Tse, juga Kristus mengutamakan harmoni. Menurut Kristus, harmoni yang paling mendasar berasal dari Allah sendiri. Allah berprakarsa memulihkan hubungan makhluk dan Khalik. Penyaliban dan kebangkitan Kristus merupakan puncak harmonisasi dari pihak Allah untuk berdamai dengan manusia.

Selanjutnya Kristus menekankan bahwa pemulihan hubungan dengan sesama yang ada di depan mata harus didahulukan dari hubungan dengan Allah yang tidak bisa dilihat mata. Kristus bersabda, “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Matius 5: 23-24).

Jiwa yang sehat tidak berisi rasa iri, dengki, dan benci, melainkan rasa dulur (Sunda: bersaudara), syukur dan akur. Jiwa yang waras bernapas dari hidup yang selaras. Bukankah tiap sanubari mencari serasi dan tiap hati mencari harmoni?

Penulis : Andar Ismail (http://artikel.sabda.org)

Warna Lugu

Litle Dancing

Menarilah nak!…sukakan hatimu lewat  gerak lugumu. Hilangkan semua ragu dan takut dalam hatimu. Menari dan menarilah, apapun yang kau suka.

Kelak dewasa warnailah hidupmu dengan keindahan yang menyejukkan hati seluruh isi bumi.

Doa kami selalu mengiringi langkah hidupmu.

Pakar seni bela diri merangkap master pengobatan tradisional China Li You Fu mengatakan: meningkatkan akhlak, selaras dengan kehendak alam, melepaskan keakuan, balik ke asal kembali ke jati diri, kesemuanya adalah jalan mencapai panjang umur secara mendasar.

Selama ribuan tahun, orang orang selalu menelaah tentang metode kesehatan dan panjang umur, dan semua orang berharap dapat memiliki kehidupan yang sehat dan bahagia. Pakar seni bela diri merangkap master pengobatan tradisional China Li You Fu pada tanggal 1 November 2009 dalam sebuah seminar berthema “moralitas dan kesehatan” memberi-tahu pada khalayak : Meningkatkan moralitas, selaras dengan kehendak alam, melepaskan keakuan, balik ke asal kembali ke jati diri, semua ini adalah jalan mencapai panjang umur secara mendasar. Jika sanggup mewujudkan demikian, penyakit akan menjauhi anda, dan anda akan memperoleh sebuah kehidupan yang baru dan cerah.

Li You Fu mengatakan, dasar untuk memelihara kesehatan adalah peningkatan moralitas, tanpa moralitas, apapun tidak layak dibicarakan, semuanya tidak ada gunanya. Orang zaman dulu mengatakan: “menjaga pikiran dari dalam,  tanpa nafsu tanpa keinginan”, ini berarti seseorang tidak boleh terlalu serakah, tidak boleh berlebihan mengejar kenikmatan materi. Dosa terbesar dari manusia adalah “tak pernah merasa puas”. Dengan tanpa nafsu tanpa keinginan, seseorang baru dapat balik ke asal kembali ke jati diri.

Dia menceritakan sebuah kisah kuno, Kaisar Huangdi pernah minta petunjuk pada Guang Cheng Zi bagaimana caranya supaya rakyat bisa berkecukupan sandang pangan,,hidup dengan tenteram, agar rakyat di seluruh negeri semuanya patuh pada Kaisar. Sebaliknya dia malah dimarahi oleh Guang Cheng Zi:  “yang kamu pelajari semua adalah ilmu pecah belah, kamu tidak mau mengikuti Tao (jalan) besar, maka aku tidak dapat memberi petunjuk padamu!”  Yang dimaksud Guang Cheng Zi adalah kaisar terlalu tergesa, ibarat tanaman di ladang belum matang sudah mau dipanen, awan belum terkumpul sudah menginginkan hujan turun.

Kaisar Huangdi pulang menutup diri merenung, dan kedua kalinya dia kembali meminta petunjuk pada Guang Cheng Zi bagaimana agar bisa selaras dengan Tao (jalan) langit dan bumi. Pada waktu itu Guang Cheng Zi yang berusia 1200 tahun menjawab: “Tao adalah hukum yang alami. Manusia harus selaras dengan alam, melepaskan keakuan, baru bisa memahami hukum langit dan bumi yang alami.

Yang disebut “hukum  atas dasar Yin dan Yang”, adalah sesuai dengan kehendak langit, mengikuti hukum perubahan alam untuk menjalani kehidupan sehari-hari. “Selaras dengan hitungan aturan alam” adalah melaksanakan pembinaan dan penggemblengan diri sesuai metode pemeliharaan kesehatan yang benar, misalnya keseimbangan psikologis, pola hidup yang teratur, makan minum yang wajar, olahraga secukupnya dan lain-lain. Tepat seperti yang Lao Zhi (Pendiri aliranTao) katakan,  “makan apapun terasa enak, pakai apapun terasa indah, hidup dengan tenteram, biasakan selalu gembira.”

Eksperimen kristal molekul air yang dilakukan fisikawan kuantum Jepang Ben Mori Kou pernah mengejutkan seluruh dunia. Eksperimen menunjukkan bahwa air bukan saja dapat mendengar berbagai jenis musik, berbagai jenis bahasa, tapi juga dapat membaca huruf berbagai negara.  Mentalitas dan pikiran manusia dapat mempengaruhi struktur kristal air. Jika Air mendengar kata-kata “cinta” dan “terima kasih”, atau kata sejenis lainnya, kristal yang dihasilkan menjadi paling indah, namun  jika mendengar kata-kata “sebel banget”, “kubunuh kau” dan kata lain yang bernada sama, kristal air akan menjadi jelek berkerut, pecah berantakan.

Ini menunjukkan bahwa mentalitas / niat pikiran manusia dapat mempengaruhi alam,  maka ilmu pemeliharaan kesehatan tradisional sangat menekankan berpikiran bajik. Li-You Fu mengatakan:  “Bila setiap orang memiliki pikiran yang baik , bukan saja tubuh akan sehat, duniapun akan menjadi lebih indah.”

Li You Fu beranggapan, pengobatan tradisional China dan Chikung (latihan olah jiwa dan raga) termasuk aliran Tao, semua adalah kebudayaan warisan dewa. Pengobatan tradisional China dan pengobatan metode Chikung semua dapat menyembuhkan penyakit dan menyehatkan tubuh. Keduanya juga mengutamakan keseimbangan internal dan eksternal, saling menyelaraskan. Di saat berlatih Chikung menghendaki hati dan pikiran menyatu, internal dan eksternal menyatu. Disamping itu tuntutan dalam Wushu (seni bela diri) tradisional berupa dada agak kedalam punggung ditarik tegak , dengan rileks menyalurkan tenaga, serta jurus-jurus: bergerak seperti ombak, tenang seperti gunung, bangkit seperti kera, turun seperti burung murai, berdiri seperti pohon cemara, duduk seperti lonceng dll, semua itu juga mengutamakan keseimbangan serta keselarasan jiwa dan raga manusia.

Dia mengemukakan, tabib masyur di Zaman Tiongkok kuno bernama Sun Si Miao pernah mengatakan: “membunuh makhluk hidup untuk mempertahankan hidup, semakin jauh dari cara hidup. Saya saat melakukan pengobatan, sekiranya dapat menggunakan tumbuh-tumbuhan maka tidak menggunakan hewan, tidak dengan nyawa sebagai bahan obat. Namun sekarang para dokter di daratan China sudah demikian bejat sampai-sampai mengambil organ dari tubuh orang hidup untuk dijual-belikan. Moralitas manusia sudah merosot hingga demikian rendah,  untuk apa membicarakan lagi perihal kesehatan.

Li You Fu juga mengatakan bahwa perampok di zaman dahulu bahkan lebih baik daripada manusia masa kini. Waktu itu para perampok hanya merampok harta, tidak merampok alam, tapi manusia sekarang sudah merampok alam, orang kaya memonopoli tanah, menguasai gunung, menebang hutan, secara gila-gilaan menjarah sumber daya alam, merusak lingkungan, sehingga manusia sendiri tidak dapat bertahan hidup. Krisis moralitas menyebabkan krisis lingkungan, Sekarang di daratan China air yang tercemar mencapai hingga 70%, air laut berbalik(intrusi) masuk daratan, udara terpolusi, dalam keadaan begini bagaimana manusia masih bisa bertahan hidup? Sumber dari semua ini adalah kerusakan moral, manusia semakin menjauhi moralitas, bencana yang ditimbulkan akan semakin besar. Tanpa moralitas, kehidupan juga tidak ada lagi.

http://erabaru.net/featured-news/48-hot-update/10353-panjang-umur-harus-mengutamakan-akhlak-dan-selaras-dengan-alam

BAWANG MERAH

Pada tahun 1919 ketika flu membunuh 40 juta orang, ada seorang dokter yang mengunjungi banyak petani untuk melihat apakah ia dapat membantu mereka memerangi flu.
Banyak petani dan keluarga mereka telah tertular dan banyak yang meninggal. Dokter ini mengunjungi satu keluarga petani, dan yang mengejutkannya, ternyata semua orang sangat sehat. Ketika dokter bertanya apa yang dilakukan petani yang membuatnya berbeda, sang istri menjawab bahwa ia telah menaruh bawang merah yang telah dikupas dalam sebuah piring pada setiap kamar di rumah itu, (mungkin hanya dua kamar waktu itu).
Dokter itu tidak percaya dan bertanya apakah ia dapat memiliki salah satu dari bawang merah itu untuk melihatnya di bawah mikroskop. Istri petani itu memberinya satu dan ketika dia melakukan hal ini, ia menemukan virus flu di bawang merah itu. Bawang merah ini jelas menyerap bakteri, oleh karena itu, menjaga keluarga ini tetap sehat.

Saya mendengar cerita ini dari penata rambut saya di AZ.

Dia mengatakan bahwa beberapa tahun lalu banyak dari karyawan yang datang bekerja dengan sakit flu dan begitu juga banyak dari pelanggannya. Tahun berikutnya ia meletakkan beberapa mangkuk bawang merah di sekitar tokonya. Yang mengejutkan, tak satu pun stafnya sakit. Ternyata berhasil .. (Bukan, dia tidak dalam bisnis bawang merah.)

Moral dari cerita ini, belilah beberapa bawang merah dan tempatkan dalam mangkuk di sekitar rumah Anda. Jika Anda bekerja di dalam kantor, tempatkan satu atau dua di kantor atau di bawah meja Anda atau bahkan di atas suatu tempat. Cobalah dan lihat apa yang terjadi. Kami melakukannya tahun lalu dan kami tidak pernah terserang flu.
Hal ini membantu Anda dan orang-orang yang Anda cintai dari sakit,dan semua menjadi lebih baik. Jika Anda terkena flu, itu hanya mungkin menjadi satu kasus yang ringan ..

Ada sebuah P.S.,

ketika aku mengirimkannya ke seorang teman di Oregon yang secara teraturmemberikan kontribusi materi masalah kesehatan kepada saya. Dia menjawab dengan pengalaman yang paling menarik tentang bawang merah : Weldon, terima kasih untuk mengingatkan. Aku tidak tahu tentang kisah petani itu … tapi, aku tahu bahwa saya terkena pneumonia dan tidak perlu untuk mengatakan aku sangat sakit … aku menemukan sebuah artikel yang mengatakan untuk memotong kedua ujung sebuah bawang merah, lalu letakkan salah satu ujungnya pada sebuah garpu dan kemudian tempatkan ujung garpu pada sebuah stoples kosong … letakkan stoples itu di sebelah pasien yang sakit pada waktu malam hari. Dikatakan bahwa bawang merah akan menjadi hitam di pagi hari karena kuman2 … tentu saja hal itu terjadi persis seperti itu … bawang merah itu berantakan dan aku mulai merasa lebih baik. Hal lain yang saya baca di artikel itu bahwa bawang merah dan bawang putih yang ditempatkan di sekitar ruangan menyelamatkan banyak orang dari wabah hitam tahun yang lalu.

Bawang merah dan bawang putih mempunyai kekuatan antibakteri, peralatan antiseptik. Ini adalah catatan lain.

SISA BAWANG MERAH BERACUN

Bawang merah adalah sebuah magnet besar untuk bakteri, terutama bawang mentah. Anda seharusnya jangan pernah berencana untuk menyimpan sebagian dari irisan bawang merah. Hal ini tidak aman bahkan jika Anda memasukkannya ke dalam tas zip-lock dan memasukkannya ke dalam kulkas Anda. Bawang merah sudah cukup terkontaminasi hanya dengan dipotong dan dibiarkan terbuka untuk sebentar saja, sehingga hal itu dapat membahayakan Anda (dan perlu lebih waspada lagi terhadap bawang merah yang Anda masukkan ke dalam hotdog Anda di taman bisbol!) Jika Anda mengambil sisa bawang merah dan memasak seperti orang gila, anda mungkin akan baik-baik saja, tetapi jika Anda memotong sisa bawang merah dan menaruh pada sandwich Anda, Anda sedang mencari masalah. Baik bawang merah dan kentang basah dalam salad kentang, akan menarik dan menumbuhkan bakteri bahkan lebih cepat daripada mayones komersial yang akan mulai rusak.

Selain itu, anjing tidak boleh makan bawang merah. Perut anjing tidak dapat mengolah bawang merah. Harap diingat, adalah berbahaya untuk mengiris bawang merah dan mencoba menggunakannya untuk memasak pada hari berikutnya, bawang merah menjadi sangat beracun bahkan untuk satu malam dan menciptakan bakteri beracun yang bisa menyebabkan infeksi lambung yang buruk dikarenakan kelebihan sekresi empedu dan bahkan keracunan makanan.

Please pass it on to all you love and care.

%d blogger menyukai ini: